HAPPY MOTHER'S DAY!!!
Selasa, 22 Desember 2009
Senin, 14 Desember 2009
Pekerjaan Paling Mudah Di Indonesia
Tak lain tak bukan adalah...
Jadilah politisi atau anggota dewan.
Mengapa begitu?
Karena tak perlu status tinggi secara akademis.
Hanya diperlukan mulut yg luar biasa besar.
Kemudian otak pas2an.
Lalu kemampuan persuasi lewat full bacotan.
Tentu saja kemampuan membacot ini juga sangat diperlukan
agar pendengarnya dapat dibodohi.
Tak lupa wajah dan gesture tubuh yg meyakinkan,
agar makin mudah menipu audiens.
Oh, dan beberapa kosakata sulit nan baku juga diperlukan.
Agar tampak kesan pandainya.
Dan juga untuk membodohi pendengarnya.
Dan tak lupa kemampuan bicara melantur nan bertele2.
Agar dipandang jago berpidato dan berbahasa.
Terakhir, jangan lupa pakaian resmi.
Blus, blazer, kemeja, celana atau rok bahan, dan pantofel hitam.
untuk menguatkan kesan berwibawa.
Bagaimana, mudah bukan?
Anda tertarik mencoba?
Sabtu, 05 Desember 2009
Id vs Ego (Sepenggal Cerita Konyol Saat UTS)
Kejadiannya adalah saat gw lagi ngerjain UTS.
Setelah ada acara salah masuk ruangan (yap, yg ngulang n yg ngambil lebih cepet digabung di kelas sendiri… gw dah hepi2 ngira di D001 ternyata…. di D021… alamak!), akhirnya gw n temen gw duduk di baris paling depan (gw dapet paling pojok depan deket pintu dan pengawas.)
Dan ga perlu waktu lama bagi gw untuk menyadari bahwa soal2 esai ujiannya itu… semuanya ada di catetan kecil (cacil) gw… kecuali tentang FIRO, yg belakangan gw tau ada di buku gw… ngik nguk… =D
nomer 1 lewat… nomer 2 tanpa hambatan… sampe pada nomer 3 atau 4 gitu, baru stuck.
Buntu.
“Walah, ini jawabannya apa ya? inget banget gw, ada nih di cacil gw!” gitu kata gw dalam hati.
Saat itu, si id tau2 bisikin gw:
“Dah, nyontek aja! Ambil tuh cacil di kantong gih, buruan!!!”
Wakwaw! jadi bingung, nyontek aja kali ya?
Eh, gak lama si ego ikutan bisik:
“Jangan deh, dah tau duduk loe di paling depan n bentuk mejanya seperti itu (mejanya nyatu ama kursi), logically kalo nyontek bakal langsung ketawan lah! apalagi itu mas2nya duduk deket bgt ama loe!!!”
Iya… bener juga sih… gw duduk paling depan, deket pintu, n itu depan kirian dikit udah pengawas… cari mati dong kalo coba2 ngerogoh kantong…
dan si id kembali berulah:
“Cari tempat buat keluarin itu cacil lah…”
Gw langsung kepikiran ke-kamar-mandi-pura2-pipis-padahal-buka-cacil.
Great Idea!
Tapi…
si ego balik nanya: “Ntar kalo ke-gap gimana?”
Iya juga ya, kalo ke-gap urusannya bisa panjang bin ribet… lebih ribet dari sekedar pergi-ke-kamar-mandi-dan-buka-cacil.
Jadi, niat gw untuk ngebet pun langsung surut.
Lagian dipikir2 rasanya agak gimana-gitu kalo ngerjain UTS nyontek…
gimana-gitunya kayak… gengsi dong ah, masa bangga nilai tinggi dari hasil curang?
Dan yg gw tau… nyontek itu pangkalnya korupsi… Yap, korupsi nilai…
Yaiks!
Dan yap, setelah sedikit clash antara si id ama si ego barusan yg dimenangkan oleh si ego, gw pun meneruskan pekerjaan gw… sedikit formula mengarang bebas dan banyak memeras otak.
Huff. ampun2…
Tapi hikmahnya…
gw jadi lebih ngerti tentang id vs ego yang udah sering banget dijabarin di diktat…
“Oh, ternyata contohnya begitu…” pikir gw.
————————————————————————————————-
Huff… konyol abis lah kalo ampe kejadian nyontek…
Ok, nuff said. Semoga bisa menjadi pelajaran untuk kita semua ya… =D
Sumber: http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/12/id-vs-ego-cerpen-saat-uts/ (original post from me)
Rabu, 25 November 2009
The Chosen Way
Jauh di depan sana ada sebuah tebing lain. Kedua tebing itu dipisahkan oleh jurang yangg sangat dalam.
Aku memandang tebing di seberang. Cukup jauh untuk kulompati.
Jarak antar tebing itu sangat lebar...
Dari belakang, terdengar suara memanggil2
"Jangan nekat! Jangan coba melompat ke seberang! Tetaplah disini bersama kami! Di Neverland ini, kau akan bahagia."
"Tapi dunia ini begitu luas, tak hanya tempat ini... Aku ingin pergi dan melihatnya..." ucapku.
Salah satu dari mereka, yang tampaknya paling tua usianya, berkata,
"Aku sudah melihatnya. Terlalu menjijikan, bagai sampah styrofoam yg tak habis dicerna bumi. Dan sampah selamanya tetap sampah. Menjijikan. Hanya bisa merusak. Itulah keadaan di luar sana."
"Itu katamu. Bagaimana kau mengharap aku akan mengalami hal yg persis sama denganmu? Aku berbeda denganmu!" jawabku.
Yang paling emosional dari mereka berkata,
"kau akan menjadi perempuan jalang jika pergi kesana!"
tidak kugubris. Bagaimanapun, itu hanya ucapan konyol dari seseorang yang tidak berpikir.
Yang paling "Ratu Drama" berkata,
"Bukankah aku sudah berbuat begitu banyak untuk menyenangkanmu? Aku sudah begini banyak berkorban dan ini balasanmu?"
Juga tidak kugubris.
Yang paling muda menjerit, sumpah serapah, caci maki, dan hinaan keluar dari mulutnya.
Peduli amat.
Aku berjalan mendekati mereka.
"Aku tak peduli kalian akan melecehkanku, menghinaku, atau semacamnya. Karena temanku bukan hanya kalian! Kalian hanyalah penghuni Neverland yang statis, menolak perubahan dan melecehkan orang yang mau menerima resiko berubah! Sekarang lihatlah, akan kugapai tebing di seberang sana!"
Sambil berkata begitu aku berbalik dengan cepat, dan berlari menuju pinggir tebing, mengambil ancang2 melompat.
Kemudian aku melompat! Aku menyongsong tebing itu. Namun...
Kakiku tidak sampai.
Aku jatuh.
"Tidak! Aku tak akan biarkan berakhir disini! Aku masih ingin melihat luasnya dunia!" jeritku dalam hati.
Tiba2 aku berhenti di udara, dan sesaat kemudian melayang kembali ke atas.
Kutengok punggungku.
Sepasang sayap putih berkilau tumbuh di punggungku.
Ya. Inilah jawabannya. Bila sudah berniat dan berusaha mewujudkannya sungguh2, selalu akan ada bantuan datang.
Aku melesat terbang ke atas. Saat kakiku sejajar dengan tebing, kulihat wajah2 terkejut dan tidak percaya para penghuni Neverland. Apakah mereka tetap melecehkan? Entah. Aku sudah tak peduli. Aku berbalik dan mendarat di tebing seberang.
Kini, aku siap menyongsong dunia luas itu...
Aku siap untuk menghadapi dunia baruku.
Karena inilah jalan yg telah kupilih...
Selasa, 24 November 2009
Synchronized Mind and Heart
Saat kelas XII guru Kesenian saya mengatakan bahwa untuk menjadi manusia yang tough, diperlukan sinkronisasi antara logika, yang dominan dimiliki laki-laki, dengan emosi, yang dominan dimiliki oleh perempuan.
Mendengarnya kemudian saya bertanya-tanya, seperti apakah kiranya sikronisasi antara logika (pikiran) dengan emosi (hati) tersebut. Seiring berjalannya waktu, saya pun berusaha merumuskan bagaimana caranya agar hati dan pikiran bisa sinkron, dan apa efeknya terhadap kehidupan. Dan inilah pembahasannya.
Apa yang dimaksud Sinkronisasi Hati dengan Pikiran?
Suatu keadaan dimana seorang individu dapat memfungsikan hati dan pikirannya secara efektif dalam menghadapi berbagai macam situasi. Biasanya individu seperti ini mampu menilai secara obyektif dan netral, tidak berat sebelah.
Terlebih dahulu, kita harus mengerti arti “pikiran” dan “hati” pada bahasan ini.
Hati
Dalam bahasan ini, hati akan diidentikkan dengan “emosi” dan “perasaan”. Hati menyediakan solusi sebuah masalah secara emosional, dan terkadang tidak sesuai nalar.
Pikiran
Dalam bahasan ini, pikiran diidentikkan dengan “logika”. Logika berperan dalam menyediakan alternatif jalan keluar dari suatu masalah secara analitis dan bisa diterima nalar.
Konflik antara hati dan pikiran
Konflik antara hati dengan pikiran terjadi ketika individu menghadapi suatu masalah. Hati memainkan pernanan penting dalam memberi reaksi emosional individu, sedangkan pikiran berusaha tenang dan mereka-reka puzzle yang membentuk alternatif jalan keluar terbaik berdasarkan nalar. Reaksi emosional hati terkadang tidak sesuai dengan logika, sehingga disinilah terjadi pertentangan.
Apa yang terjadi bila hati dan pikiran tidak sinkron?
Bila hati yang lebih dominan
Efeknya, individu hanya akan mempermalukan diri sendiri karena terlalu menuruti emosinya. Individu akan dicap sebagai orang yang over-sensitif (atau bahasa gaulnya, sensi) dan temperamental. Bila dibiarkan berlarut-larut, individu akan terkenal sebagai drama queen / king (terlalu mendramatisir suasana).
Individu seperti ini biasanya akan memiliki karakter yang sangat emosional, temperamental, over-reaktif, dan moody, mood-nya sangat mudah berubah-ubah sesuai dengan suasana hati (sangat reaktif terhadap suasana hati). Positifnya, individu dengan karakter ini sangat peka terhadap sekitarnya, oleh karena itu kemampuan berempatinya tinggi. Namun jika kemampuan berempati ini terlalu tinggi, siap-siap saja mengalami konflik dalam persahabatan karena sifat yang dianggap “sok mengerti-sok paham” oleh orang lain.
Bila logika yang lebih dominan
Pun jika individu terlalu menuruti logikanya. Individu tersebut akan dicap sebagai seorang yang keras kepala dan dingin. Malah, dalam beberapa ajaran agama tertentu, akan dianggap sekuler.
Individu dengan karakter seperti ini, memiliki kepala dingin dan tidak mudah tersulut emosinya. Saat adu argumen, ia mampu membalikkan argumen dengan baik, karena kemampuan nalarnya yang tinggi. Sisi negatifnya, ia menjadi keras kepala karena menganggap logikanyalah yang selalu benar, dan hal ini memicu timbulnya sikap selalu mau menang sendiri dan akhirnya berkembang menjadi egois. Individu dengan karakter seperti ini juga termasuk susah berempati terhadap sekitarnya.
Menyelaraskan hati dengan pikiran
Cara untuk membuat hati “akur” dengan pikiran, salah satunya adalah dengan mencari atau membuat waktu khusus untuk menyendiri dan memikirkan masalah-masalah yang sedang dihadapi. Secara alami, hati akan memberi reaksi-reaksi emosional, dan logika dengan sendirinya akan berusaha meredam ledakan-ledakan emosi yang berlangsung sehingga pada titik tertentu, akan tercapai kondisi tenang dan terang dalam pikiran dan hati, dan biasanya pada saat inilah sebuah solusi yang dianggap terbaik akan muncul dalam wujud ilham.
Bagaimana caranya?
Terlebih dahulu, individu harus memikirkan suatu masalah dalam kondisi setenang-tenangnya. Saat hati mulai memberi reaksi-reaksi emosional, langsung fungsikan pikiran untuk meredam agar ledakan emosi tidak perlu sampai terjadi. Caranya bisa menarik napas panjang sebanyak paling tidak 3 kali saat diri kita mulai dikuasai emosi. Cara ini biasanya mujarab untuk menenangkan pikiran, karena oksigen yang dihirup akan “menyegarkan” pikiran.
Apa yang terjadi bila hati dengan pikiran dapat sinkron?
Yang paling tampak, individu akan cenderung menghadapi masalah dengan kepala dingin, namun tetap dapat bisa berempati, sehingga memudahkannya dalam mengambil keputusan atau alternatif yang dapat memuaskan semua pihak.
Selain itu, individu juga akan menjadi lebih legowo dalam menerima keputusan yang kurang memuaskan baginya. Ia akan menerimanya tanpa banyak cingcong maupun protes.
Individu dengan karakter seperti ini juga tidak mudah meledak-ledak saat emosinya tersulut, melainkan diam, berpikir, dan pada saatnya dia menemukan celah, dia akan mengemukakan alasan dan pandangannya. Bila apa yang dia katakan dijadikan argumen untuk menyerangnya, ia akan diam, dan berlalu, menjauh, cuek, karena dia tidak mau berlarut-larut dalam menghadapi sesuatu. “Lebih baik biarkan waktu yang menunjukkan kebenarannya,” begitulah prinsipnya.
Sumber: http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/11/synchronized-mindandheart/ (original post from me)
